ZONAMERAHNEWS.NET, Sumbawa Barat – Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Sumbawa Barat, Mars Anugerainsyah, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menggarap sebuah inovasi strategis bernama Sistem Informasi Riset Daerah (Sirda). Inovasi ini merupakan bagian dari Aksi Proyek Perubahan pada kepesertaannya dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Tahun 2025. Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai media pada Senin (10/08/ 2025).
Mars menjelaskan bahwa Sirda dirancang sebagai solusi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi program-program daerah. Menurutnya, banyak program pemerintah yang berjalan tanpa didukung riset memadai sehingga realisasinya tidak optimal atau bahkan tidak mencapai target. Kehadiran Sirda diharapkan dapat menjadi instrumen yang memastikan setiap program daerah diawali dengan kajian ilmiah yang tepat.
“Proyek perubahan yang saya buat ini adalah inovasi yang bisa menjadi acuan tiap OPD dalam melaksanakan program kegiatannya,” ujarnya selaras ia menegaskan bahwa seluruh perangkat daerah ke depan harus menempatkan riset sebagai pondasi utama dalam proses perencanaan.
Lebih jauh Mars memaparkan bahwa mekanisme Sirda akan mengarahkan setiap organisasi perangkat daerah untuk terlebih dahulu melakukan penelitian sebelum merancang dan melaksanakan sebuah program. Dengan kata lain, Sirda mendorong terciptanya pola kerja satu kebijakan satu riset, sehingga setiap kebijakan yang lahir benar-benar berbasis data dan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sirda sendiri disusun dengan fokus pada empat tujuan utama. Pertama, terbangunnya sistem informasi riset daerah yang terintegrasi. Kedua, terciptanya pola pikir atau mindset riset di lingkungan OPD. Ketiga, tersusunnya seluruh kebijakan daerah berbasis riset. Keempat, terbentuknya ekosistem pembuatan kebijakan berbasis riset yang berkelanjutan di Kabupaten Sumbawa Barat.
Mars mengungkapkan bahwa gagasan awal Sirda muncul dari riset sederhana yang dilakukannya terkait sejumlah program daerah yang tidak mencapai target. Dari penelitian tersebut, ia menemukan bahwa ketiadaan riset sejak tahap awal perencanaan menjadi penyebab utama kegagalan program. Berdasarkan temuan itulah ia merasa perlu menghadirkan sistem yang dapat memperkuat budaya penelitian di birokrasi.
“Makanya inovasi Sirda ini saya buat dengan harapan kita menyediakan bahan riset untuk pemerintah. Sehingga kalau mau buat program, data risetnya sudah ada di Sirda dan OPD tinggal mengambilnya sebagai acuan,” jelasnya.
Hal ini dianggap penting agar perangkat daerah tidak lagi bekerja hanya berdasarkan asumsi, melainkan berlandaskan hasil kajian. Selain menjadi basis data riset pemerintah, Sirda juga berfungsi untuk mencegah tumpang tindih riset yang selama ini kerap terjadi. Mars menjelaskan bahwa setiap tahun ada banyak riset yang dilakukan pemerintah, namun hasilnya tidak tersimpan dengan rapi sehingga seringkali riset yang sama kembali dilakukan pada tahun-tahun berikutnya, yang tentu tidak efisien dari sisi anggaran maupun waktu.
“Di Sirda nanti, setiap hasil riset tertata rapi sehingga kalau yang sudah dibuat penelitiannya dapat dipastikan tidak akan dibuat lagi di tahun-tahun berikutnya,” tegas Mars.
Ia menilai bahwa penataan yang baik akan membuat pemerintah dapat mengidentifikasi kebutuhan riset baru, bukan mengulang yang lama. Dengan hadirnya Sirda, Mars berharap Kabupaten Sumbawa Barat dapat menjadi daerah yang memiliki sistem pembuatan kebijakan modern, berkelanjutan, dan berbasis riset.
“Brida akan terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak agar Sirda tidak hanya menjadi proyek perubahan, tetapi benar-benar menjadi fondasi tata kelola pembangunan daerah,” ujarnya.












