ZONAMERAHNEWS.NET, Sumbawa Barat | NTB – Sebagai wakil rakyat, Muhammad Nur, SH dikenal sangat dekat dengan warganya. Anggota DPRD KSB yang menjabat diperiode kedua di parlemen Telaga Bertong itu, juga dikenal sederhana. Pantas saja, warga tak segan segan untuk berinteraksi aktif dengan beliau. Apalagi untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung. Baik secara non formal, maupun dalam setiap agenda reses.
Khusus dalam agenda reses, Muhammad Nur selalu menekankan kepada konstituennya, bahwa reses bukan sekedar agenda menyerap aspirasi saja. Namun juga warga bisa menyampaikan segala keluh kesahnya, terhadap kejanggalan yang ada dalam aspek yang bersentuhan langsung dengan warga tersebut. Baik dalam hal pertanian, perikanan, kehutanan, dan lain sebagainya.
“Reses digelar selain untuk menyerap aspirasi konstituen, juga mendengar pengaduan masyarakat. Karena bagi saya, apa yang bapak ibu sampaikan atau keluhkan, merupakan suatu hal yang harus saya pertanggungjawabkan. Baik secara moral maupun politis,” tutur politisi Partai Bulan Bintang itu, saat reses di Desa Seloto, Sabtu (27/10/2022).
Dengan selalu membuka diri, tak khayal warga selalu merasa senang menyuarakan aspirasinya, bahkan di luar dari agenda reses sekalipun. Berbagai aspirasi sering kali masuk ke meja anggota DPRD KSB tersebut. Sebut saja misalnya aspirasi untuk membangun jalan usaha tani, dan jembatan penghubung Seloto – Desa Beru Brang Rea.
“Kalau untuk jembatan penghubung Seloto-Desa Beru, sekarang sudah ada anggarannya. Namun hanya menunggu lelang. Total anggarannya sekitar Rp 2 miliar lebih. Semoga pada 2023 sudah mulai pengerjaan,” jelasnya.
“Memang banyak aspirasi warga yang urgent untuk kita realisasikan. Namun terkadang karena keterbatasan anggaran. Belum lagi saya yang di luar koalisi pilkada sebelumnya, yang mau gak mau juga berimbas pada politik anggaran,” kata anggota DPRD KSB itu.
Mendengar penjelasan itu, warga pun merespon positif. Meski begitu, karena situasi sulit akibat pandemi Covid-19, warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan itu tetap mengutarakan permintaannya. Permintaannya Pun beragam, ada yang meminta bantuan sampan, Alat Mesin Pertanian (Alsintan), hingga meminta akses jaringan listrik menuju bendungan.
“Insyaallah apa yang bapak suarakan akan kami perjuangkan. Intinya siapapun nanti yang dapat bantuan atau yang telah menerima di tahun sebelumnya, saya sangat berharap agar bantuan tersebut tidak dijual. Apapun kondisi yang bapak ibu alami, silahkan konsultasikan ke kami,”terang Muhammad Nur, membuka diri.
Disamping menyerap aspirasi, beberapa warga juga ingin mendapatkan gambaran terkait masalah di sektor pertanian yang menahun. Mulai dari pupuk yang selalu serba terbatas dan mahal, hingga harga gabah yang selalu anjlok. Mendengar itu, Muhammad Nur menjelaskan temuannya di lapangan, hingga pemetaan masalah yang kini berimplikasi pada petani. (ZMN.Yan)












