ZONAMERAHNEWS.NET, Sumbawa Barat – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Asy-Syifa Kabupaten Sumbawa Barat mencatatkan tingkat kunjungan pasien yang konsisten setiap bulannya. Tren positif ini sekaligus menjadi momentum bagi manajemen untuk mengoptimalkan mutu pelayanan kesehatan serta mengejar target kinerja Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Direktur RSUD Asy-Syifa, Andy Suhaeri, S.ST., M.M.Inov., merinci bahwa rata-rata kunjungan rawat jalan saat ini berada di kisaran 4.800 pasien setiap bulannya. Sementara itu, untuk layanan rawat inap, jumlah pasien yang mendapatkan perawatan medis mencapai sekitar 500 orang per bulan.
Menurut Andy, tingginya angka kunjungan tersebut mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat yang semakin baik terhadap fasilitas kesehatan rujukan di Bumi Pariri Lema Bariri ini. Kendati demikian, kondisi tersebut juga menuntut manajemen untuk terus menghadirkan kesiapan infrastruktur dan layanan yang lebih komprehensif.
Berdasarkan hasil analisis berkala yang dilakukan pihak manajemen terhadap data kunjungan dan rujukan, angka rujukan keluar saat ini tercatat masih berada di kisaran 3 hingga 5 persen dari total keseluruhan kunjungan pasien.
“Sebagian besar rujukan disebabkan karena belum tersedianya dokter spesialis untuk penanganan kasus-kasus tertentu, seperti ortopedi atau kasus patah tulang, urologi, dan onkologi atau kanker,” jelas Andy.
Situasi inilah yang kemudian menjadi dasar kuat bagi rumah sakit untuk memprioritaskan penguatan tiga layanan spesialis baru guna mendekatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat.
Sebagai fasilitas kesehatan yang beroperasi dengan pola pengelolaan keuangan BLUD, RSUD Asy-Syifa dituntut memiliki indikator target yang terukur dan akuntabel. Salah satu fokus utama yang tengah dikejar adalah menekan angka rujukan ke luar daerah sekaligus meningkatkan kapasitas penanganan medis secara mandiri di dalam rumah sakit.
Andy menambahkan, pengembangan layanan yang tengah digalakkan tidak sekadar berorientasi pada penambahan jumlah tenaga medis spesialis, melainkan juga bermuara pada kemandirian operasional rumah sakit. Dengan kelengkapan fasilitas dan keahlian yang memadai, pelayanan dapat berlangsung secara lebih efektif dan efisien, sehingga masyarakat tidak perlu merujuk berobat ke luar wilayah.
Meski demikian, manajemen tetap berkomitmen untuk mengedepankan prinsip rasionalitas medis dan keselamatan pasien. Kebijakan rujukan tetap akan diberlakukan secara selektif apabila sarana atau alat penunjang medis yang dibutuhkan belum tersedia secara paripurna di RSUD Asy-Syifa.
“Hampir semua spesialis sudah berkomitmen bahwa kalau misalnya bisa dirawat di sini, ya tidak perlu dirujuk. Kecuali yang ada spesialisnya di Asy-Syifa tapi tidak ada alatnya di kami, itu memang bisa dirujuk, tapi angkanya sedikit sekali,” tegasnya.
Seluruh indikator data kunjungan maupun pola rujukan pasien ke depan akan terus dievaluasi secara berkala. Langkah ini ditempuh guna memetakan kebutuhan medis yang paling mendesak di tengah masyarakat sebagai acuan dalam menyusun strategi pengembangan layanan jangka panjang.
Melalui langkah-langkah strategis tersebut, RSUD Asy-Syifa optimis dapat menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin prima. Sinergi antara penguatan layanan spesialis dan pencapaian target BLUD diharapkan mampu mendongkrak kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh di Kabupaten Sumbawa Barat. (**)












